Apa itu segitiga exposure fotografi?

Memahami segitiga exposure fotografi

Setiap fotografer yang mahir dan profesional sangat perlu belajar bagaimana menggunakan pencahayaan dalam fotografi. Ketika kamu pertama kali mulai mengambil gambar, kamu mungkin bingung dengan tombol dan opsi menu yang banyak jumlahnya di kamera kamu. Dengan memahami cara mendapatkan gambar yang benar, kamu dapat menangkap foto-foto dengan kecerahan yang ideal, termasuk tingkat detail yang tinggi baik di area shadow dan highlight. Dalam artikel ini akan dijelaskan secara detail, serta membantu kamu memahami segitiga exposure: ISO, shutter speed dan aperture.

Apa itu segitiga exposure?
Dalam fotografi, exposure adalah jumlah cahaya yang masuk ke sensor kamera. Ini adalah bagian penting seberapa cerah atau gelapnya foto kamu.

Hanya ada dua pengaturan kamera yang mempengaruhi “exposure terang” dari sebuah gambar: ISO dan shutter speed. Pengaturan ketiga, ISO kamera juga mempengaruhi kecerahan foto kamu. Juga kamu dapat mencerahkan atau menggelapkan foto dengan mengeditnya dalam software seperti photoshop atau lightroom di komputer kamu.

Terdengar dasar, namun segitiga exposure adalah topik yang membingungkan bahkan untuk fotografer yang sudah mahir. Alasannya sederhana, untuk setiap scene, berbagai shutter speed, aperture, dan pengaturan ISO akan menghasilkan foto dengan kecerahan yang tepat. Kamu belum menguasai exposure kalau kamu belum mendapatkan foto dengan kecerahan yang tepat. Sebaliknya, mendapatkan exposure yang tepat untuk foto adalah dengan menyeimbangkan ketiga pengaturan tersebut sehingga foto terlihat bagus, dari depth of field sampai sharpness.

Jika kamu benar-benar ingin menguasai segitiga exposure, membaca tentang exposure nggak akan cukup. Kamu perlu keluar dan mempraktekan apa yang telah kamu pelajari. Nggak ada cara cepat dan kotor untuk mengambil keterampilan seperti ini. Tetapi jika kamu punya tekad yang kuat, kamu dapat keuntungan yang besar jika kamu mempelajarinya.

Shutter speed
Shutter speed nggak terlalu sulit, hanya jumlah waktu yang dihabiskan kamera untuk mengambil gambar. Bisa jadi 1/100 detik atau 1/10 detik, atau tiga detik, atau lima menit. Beberapa orang membuat kamera khusus yang membutuhkan puluhan tahun untuk mengambil sebuah foto.

Kamera nggak akan membiarkan kamu mengambil foto selama beberapa dekade. Sebaliknya, shutter speed terpanjang yang diperbolehkan cenderung sekitar 30 detik, meskipun itu tergantung pada kamera kamu. Misalnya pada nikon D850, kamu dapat memotret dengan shutter speed dari 1/8000 detik hingga 30 detik, serta mode waktu untuk long exposure. Kamera lain umumnya memungkinkan untuk pengaturan yang serupa.

Dengan demikian, kenapa shutter speed benar-benar penting? Ada dua alasan utama:

Pertama, seperti yang kamu harapkan shutter speed yang panjang (beberapa detik) memungkinkan dalam jumlah besar cahaya yang masuk. Kalau kamu mengambil foto siang hari normal dengan shutter speed 30 detik, kamu akan mendapatkan gambar yang benar-benar putih. Kebalikannya, shutter speed yang cepat hanya memungkinkan dalam jumlah sedikit cahaya yang masuk. Jika kamu mengambil foto pada malam hari dengan shutter speed 1/8000 detik, foto kamu akan benar-benar hitam.

Lihatlah contoh dibawah ini. Disini, 1/25 detik kurang terang, dan 1/3 detik teralu terang. Gambar ini akan memberi kamu gambaran tentang perbedaan kecerahan dengan shutter speed.

Perubahan kecerahan gambar dengan shutter speed

Kedua, satu-satunya efek besar lainnya adalah gambar blur (buram). Nggak heran, shutter speed yang panjang (seperti lima detik) menangkap apa pun yang bergerak selama exposure. Jika seseorang lewat, merekan akan muncul sebagai gambar tanpa atribut di seluruh gambar, karena mereka nggak di satu tempat cukup lama untuk exposure menangkap mereka. Itu disebut motion blur.

Sebagai perbandingan, shutter speed cepeat (seperti 1/1000 detik) melakukan freezing motion yang lebih baik di foto kamu, bahkan ketika bergerak dengan cepat. Kamu bisa memotret air terjun pada 1/1000 detik dan melihat tetesan air yang membeku di udara. Tanpa kamera mereka mungkin nggak akan terlihat.

Lihatlah gambar dibawah ini. Pada gambar orang yang sedang berlari shutter speed mempengaruhi dalam gambar motion blur.

Ada dua jenis blur yang mungkin kamu temui karena shutter speed: camera blur dan subject blur.

Kalau kamu melakukan handheld photography. Kamera blur bisa sangat signifikan. Nggak mungkin untuk memegang kamera kamu dengan diam ketika kamu megambil gambar dengan shutter speed rendah, dan bahkan sedikit goyangan dapat menyebabkan foto yang sangat buram. Itulah salah satu alasan mengapa banyak fotografer akhirnya menggunakan tripod.

Namun, meskipun tripod melindungi terhadap gerakan kamera, tripod nggak melakukan apa pun untuk mencegah pergerakan scene. Itu disebut subject blur.

Terkadang, kamu dapat menggunakan kamera atau subject blur secara artistik, dan terlihat bagus. Misalnya, kalau kamu memotret awan saat mereka melewati lembah, shutter speed yang panjang merupakan sentuhan yang bagus.

Awan bergerak cukup cepat selama exposure ini. Shutter speed 20 detik menekankan gerakan. Namun, dalam banyak kasus, kamu mungkin ingin menghilangkan gambar kabur sehingga seluruh foto kamu tajam. Kalau itu tujuannya, kamu harus memilih shutter speed yang cukup cepat untuk membekukan gerakan apa pun. Jadi, shutter speed apa yang kamu gunakan?

Semua tergantung pada beberapa faktor luar yang paling penting, jumlah gerakan dalam scene kamu. Jika subjek kamu bergerak sangat cepat, kamu memerlukan shutter speed yang cepat. Jika subjek kamu diam atau hanya bergerak sangat lambat, kamu bisa dengan shutter speed yang lebih panjang.

Cara terbaik untuk mempelajari semua ini hanyalah untuk terus berlatih. Seiring waktu, kamu akan membangun gambaran mental yang baik tentang shutter speed yang dapat kamu gunakan dalam lingkungan tertentu tanpa berisko mengaburkan gerakan. Apakah 1/250 detik, 1/10 detik, atau 20 detik. Selain itu, setelah mengambil gambar di luar, review dan lihat apakah ada blur saat diperbesar. Jika ya, kamu perlu shutter speed yang lebih cepat.

Ingin panduan cepat? Pergunakan 1/500 detik atau lebih cepat untuk foto olahraga dan aksi satwa liar. Atur shutter speed 1/100 detik atau lebih cepat untuk gambar potret telefoto. Gunakan 1/50 detik atau lebih cepat untuk foto potret atau perjalanan yang lebih lebar dimana subjek kamu nggak terlalu banyak bergerak. Jika subjek kamu benar-benar diam, dan kamu memiliki tripod, gunakan shutter speed yang kamu inginkan.

Ini merupakan saran yang sangat umum, tetapi mereka adalah tempat yang baik untuk memulai. Namun, tujuan kamu haruslah melampaui kiat-kiat ini dan mengembangkan model mental kamu sendiri. Shutter speed adalah salah satu aspek yang paling intuitif dari exposure, dan sedikit latihan akan cukup untuk membantu foto kamu meningkat secara signifikan.

Aperture
Aperture sangat mirip dengan “pupil” lensa kamera kamu. Sama seperti pupil di mata kamu, itu dapat membuka atau mengecil untuk mengubah jumlah cahaya yang lewat. Ini adalah bagaimana aperture blades terlihat pada lensa.

Aperture blades bekerja sangat mirip dengan pupil di mata kamu. Pada malam hari, pupil akan membesar sehingga kamu dapat melihat berbagai hal dengan lebih mudah. Saat gelap, kamu dapat membuka aperture blades di lensa kamu dan membiarkan lebih banyak cahaya. aperture di tulis dengan F/Nomor. Misalnya, kamu memiliki aperture F/2, atau F/8, atau F/16 dan seterusnya.

Biasanya, aperture terbesar yang dapat kamu atur akan menjadi sesuatu seperti F/1.4, F/1.8, F/2, F/2.8, F/3.5, F/4, atau F/5.6. Ini berubah dari lensa ke lensa. Aperture terkecil pada kebanyakan lensa adalah seperti F/16, F/22, atau F/32. Diagram ini menunjukan ukuran relatif berbagai pengaturan aperture.

Sehingga, pengaturan aperture mana yang terbaik untuk fotografi dan menangkap exposure dalam kamera yang tepat? Itu tergantung pada foto. Aperture mempengaruhi banyak bagian dari suatu gambar, tetapi memiliki dua efek yang lebih penting dari apapun.

Aperture dan Exposure
Semakin besar aperture kamu, semakin terang foto kamu, semakin banyak cahaya yang kamu ambil.

Aperture besar memungkinkan lebih banyak cahaya. Lubang seperti F/1.4 dan F/2 secara praktis membiarkan kamu melihat dalam gelap. Di sisi lain, aperture kecil seperti F/16 memungkinkan cahaya yang jauh lebih sedikit. Jika kamu memotret milkyway di F/16, gambar akhir kamu akan berwarna hitam.

Dengan mengubah pengaturan shutter speed dan aperture, kamu dapat menangkap jumlah cahaya yang diinginkan, menghasilkan foto dengan pencahayaan yang tepat. Itulah yang membuat aperture sangat kuat.

Aperture dan Depth of Field
Efek penting lainnya dari aperture adalah pada depth of field.

Depth of field adalah jumlah scene kamu, dari depan ke belakang, yang tampak tajam. Dalam foto landscape, depth of field kamu mungkin sangat besar, membentang dari foreground hingga horizon. Dalam foto portrait, depth of field kamu mungkin sangat tipis sehingga hanya mata subjek kamu yang tajam.

Aperture mengubah depth of field kamu, Mengubah depth of field dalam suatu gambar akan mengubah tampilan secara keseluruhan.

Untuk lebih spesifik, aperture yang kecil (seperti F/11 atau F/16) memberi kamu depth of field yang besar. Jika kamu ingin semuanya dari depan ke belakang tampak tajam, itu adalah pengaturan yang bagus untuk digunakan. Aperture yang besar (seperti F/1.4 atau F/2.8) menangkap depth of field yang jauh lebih tipis, dengan efek fokus yang dangkal. Mereka sangat ideal jika kamu mencoba untuk mengisolasi hanya sebagian kecil dari subjek kamu, membuat semuanya menjadi blur.

Berikut ini contoh perbandingannya

Seperti yang kamu lihat, itu adalah perbedaan yang signifikan. Foto disebelah kanan memiliki depth of field yang lebih besar, yang berarti lebih banyak scene tampak tajam dari depan ke belakang. Namun, foto F/2 di sebelah kiri memiliki efek fokus yang dangkal. Dalam hal ini, bisa dibilang gambar yang lebih baik.

Dalam prakteknya, efeknya cukup jelas. Ketika aperture kamu semakin kecil, exposure kamu akan menjadi lebih gelap, dan depth of field akan meningkat.

Skala Aperture
Skala shutter speed mudah diingat. Sebuah exposure 1/100 detik memungkinkan cahaya dua kali lebih banyak dari 1/200 detik, karena itu dua kali lebih panjang.

Dari F/1.4 hingga F/2, kamu akan menangkap setengah cahaya sebanyak mungkin. Kamu juga akan meningkatkan depth of field.

Biasanya, aperture paling tajam berada di suatu tempat dalam range. Pada kebanyakan lensa, F/4, F/5.6, dan F/8 adalah aperture yang paling tajam. Namun, ini bervariasi dari lensa ke lensa. Selain itu, ketajaman nggak seharusnya menjadi perhatian utama kamu. Lebih baik memiliki foto dengan depth of field yang tepat, meskipun itu berarti bahwa beberapa low level pixel memiliki detail sedikit.

ISO – Bukan Bagian dari Segitiga Exposure
ISO adalah yang menarik. Ini mencerahkan foto kamu, tetapi itu bukan bagian dari exposure”, karena nggak mempengaruhi jumlah cahaya yang mencapai sensor kamera kamu. Sebaliknya, itu hanya mencerahkan foto di kamera setelah sensor kamu sudah terkena cahaya.

Ini berguna untuk menaikan ISO kamu ketika kamu nggak memiliki cara lain untuk mencerahkan foto kamu. Misalnya, ketika menggunakan shutter speed yang lebih panjang akan menambahkan terlalu banyak motion blur, dan kamu sudah berada pada aperture terbesar (seperti F/1.4). Ini adalah pengaturan yang sangat berharga untuk dimiliki, tetapi itu bukan kabar baik. Saat kamu menaikan ISO, foto kamu akan lebih cerah, tetapi kamu juga akan menekankan grain (noise) dan pixel yang berubah warna di gambar.

Lihatlah perbandingan di bawah ini:

Perbandingan kualitas gambar ISO tinggi dan rendah

Di sini, foto di sebelah kanan terlihat jauh lebih noise, dan memiliki beberapa pergeseran warna yang aneh dalam bayang-bayang. Itu karena diambil pada ISO 25.600, yang merupakan ISO yang sangat tinggi.

Namun, ISO yang lebih tinggi akan diperlukan ketika exposure kamu terlalu redup dan kamu nggak memiliki cara lain untuk mengambil foto yang cukup terang. Dalam kasus seperti itu, menaikan ISO kamu adalah teknik yang sangat berharga untuk dipahami.

Skala ISO mudah diingat. Pada angka yang lebih tinggi, foto kamu akan lebih cerah, tetapi kamu juga akan melihat lebih banyak noise. Skala ISO adalah 100, 200, 400, 800, 1600, 3200 dan 6400. Beberapa kamera melampaui kisaran ini, di kedua arah, seperti ISO 25.600 gambar di atas.

ISO terendah pada kamera disebut “base ISO”. Biasanya, base ISO akan menjadi 100, tetapi beberapa kamera memiliki ISO 64, ISO 200, atau yang lain sebagai gantinya.

Lihatlah rangkaian gambar dibawah ini. Disini, foto disebelah kiri berada di ISO 100, dan itu terlalu gelap. Dengan meningkatkan ISO, kamu akan melihat hasilnya terus meningkat. Meskipun ada beberapa noise pada ISO 1600 jika kamu memperbesar pixel, foto yang noise lebih baik daripada gambar yang terlalu gelap.

Kamu mungkin bertanya-tanya berapa banyak noise yang ada pada foto ISO 1600 diatas, dan jawabannya adalah bahwa jumlah keseluruhan cukup dapat diterima.

Namun, masih yang terbaik untuk menggunakan base ISO kamu bila memungkinkan, menangkap foto kamu dengan exposure yang lebih cerah (shutter speed dan aperture) sebagai gantinya.

Sayangnya, kamu harus membiarkan banyak cahaya untuk menangkap foto yang terpapar dengan baik pada ISO 100. Itu bagus dalam kondisi terang, atau jika kamu memotret scene yang nggak bergerak dari tripod (karena tripod memungkinkan kamu menggunakan shutter speed yang lebih panjang). Tetapi itu nggak selalu berhasil. Itulah mengapa penyesuaian ISO sangat kuat, dan mengapa mereka memiliki efek yang sangat penting pada exposure kamu meskipun secara teknis mereka bukan bagian dari itu.

Jadi, jangan ragu untuk menggunakan ISO yang lebih tinggi jika diperlukan.

Kesimpulan
Segitiga exposure dapat terlihat rumit, tetapi ini adalah salah satu topik teknis yang paling penting untuk diketahui jika kamu ingin mengambil foto berkualitas tinggi. Hal terbaik yang dapat kamu lakukan sekarang adalah keluar dan uji saran di atas untuk kamu sendiri. Bermain-main dengan pengaturan eksposur kamu, serta ISO. Perhatikan bagaimana pengaruhnya pada foto. Yang paling penting, terus berlatih. Eksposur adalah sesuatu yang nggak akan pernah berhenti kamu tingkatkan, dan tanpa diragukan, itu sepadan dengan usaha untuk belajar.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *